Tuesday, 12 May 2015

Mengenal Lebih Dekat Para Kanmusu: Jintsuu

Source
PENGENALAN

Jintsuu adalah 'adik' dari Sendai, atau kapal kedua dari lini kelas Sendai. Pada saat itu, kelas Sendai merupakan kapal penjelajah ringan Jepang seberat 5.500 ton yang paling modern. Sebagai bagian dari program "Armada 88", pembangunannya dimulai pada 4 Agustus 1922 di Kobe tepatnya di Galangan Kapal Kawazaki.

Aslinya, ia direncanakan menjadi kapal ketiga dari kelas Sendai. Namun, Naka yang pada saat itu direncanakan sebagai kapal kedua kelas Sendai dan sedang dibangun di Yokohama, justru rusak parah akibat bencana alam Gempa Bumi Kanto pada 1923. Oleh karenanya, Jintsuu menjadi kapal kedua kelas Sendai.

Saat Perang Dunia II dimulai, armada kapal penjelajah ringan milik Jepang bisa dikatakan sudah ketinggalan zaman. Namun, sampai selesai dibangunnya kapal kelas Agano, kelas Sendai tetap menjadi ujung tombak IJN di kawasan Pasifik.


SPESIFIKASI

Kapal kelas Sendai memiliki fitur unik berupa empat tungku yang tidak bisa ditemukan di kelas-kelas lainnya. Desain semacam ini dikarenakan oleh sebuah prediksi pada awal program "Armada 88", bahwa akan terjadi defisit minyak bumi di Jepang pada saat satu dekade mendatang. Jadi desain ini dipilih untuk mendayagunakan mesin pembakaran hybrid minyak-batu bara secara optimal. Dan ketiga kapal kelas Sendai memiliki spesifikasi persenjataan yang sama. Lihat ke sini untuk melihat spesifikasi persenjataan kapal kelas Sendai.


SEJARAH PRA PERANG DUNIA II

Menyadari keunggulan Amerika dalam hal jumlah dan sumber daya alam, Kekaisaran Jepang memutuskan untuk menutupi kelemahan dalam hal kuantitas dengan melakukan latihan intensif siang-malam selama satu minggu penuh*.

Dalam salah satu latihan tersebut, sebuah kecelakaan yang langka terjadi. Pada tanggal 24 August 1927, saat latihan pertarungan malam berskala besar di tengah-tengah kegelapan, Jintsuu menabrak kapal perusak Warabi. Malang bagi Warabi karena tabrakan tersebut menyebabkan dirinya terbelah menjadi dua dan tenggelam. Sedangkan haluan kapal Jintsuu mengalami kerusakan parah. Naka yang beroperasi bersama-sama dengan Jintsuu mencoba untuk menghindari kecelakaan tersebut, namun ia justru menabrak kapal perusak Ashi. Insiden tabrakan berganda yang langka ini kelak dikenal sebagai Insiden Mihonoseki. Keduanya lalu dikawal oleh Kongou menuju galangan kapal perbaikan.

Karena insiden itu, Jintsuu harus mengalami perbaikan dan remodel dimana haluannya diperbaharui dan menciptakan model haluan dengan lekuk berganda. Kelak, haluan kapalnya akan menjadi model haluan kapal untuk kapal kelas Agano sebagai penerusnya.

Setelah mengalami perbaikan, Jintsuu langsung terlibat dalam Perang Sino-Japanese Kedua terutama untuk tugas pengawalan pendaratan pasukan marinir dan patroli di provinsi Shandong.

*) Setelah berakhirnya perang Jepang-Rusia, angkatan laut Jepang menambah porsi latihannya tanpa istirahat. Colonel Yuuzou Tsuru pernah berucap bahwa seolah-olah satu minggu bagi mereka terdiri dari [Senin, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Jumat]. Temannya menyebarkan berita ini dan menjadi isu paling populer bahkan di kalangan masyarakat awam pada saat terjadinya perang. Kapten kapal Jintsuu sendiri dikenal dengan sebutan "Pelatih Iblis", karena semua unit kapal destroyer yang berada di bawahnya dijamin akan mendapatkan porsi latihan yang dua kali lebih berat daripada jika berada di bawah komando Naka atau Sendai sekalipun.


SEJARAH PERANG DUNIA II

Satu dekade sampai menjelang meletusnya Perang Dunia II, Jintsuu ditugaskan sebagai flagship untuk Skuadron Destroyer 2, yang merupakan kekuatan serang utama dari armada gabungan IJN. Ia berada di posisi itu selama 10 tahun, sebagai pemimpin dan pelatih dari berbagai model kapal perusak yang datang silih berganti. Dan akhirnya, ia menjadi 'wajah' dari skuadron torpedo IJN sampai tirai pembukaan perang dimulai.

Pada saat penyerangan ke Pearl Harbor, Jintsuu ditempatkan di pangkalan Palau dan terlibat dalam invasi ke Mindanao, Filipina. Pada akhir Desember 1941, Jintsuu dipindahkan orientasi militernya dari Filipina ke Hindia Belanda dengan membawahi Divisi Destroyer 15 dan 16. Dan pada tanggal 9 Januari 1942, Jintsuu memulai penyerangannya ke pangkalan militer Belanda di Manado, Sulawesi. Berturut-turut Jintsuu dan armadanya melumpuhkan pangkalan militer Belanda di Ambon, pangkalan militer Portugis di Timor, dan kemudian Jawa Timur.

Dalam Pertempuran Laut Jawa pada 27 Februari 1942 yang menjadi fase terakhir operasi penaklukan Jawa oleh Jepang, tepatnya di sebelah utara Laut Surabaya, armada yang dipimpin Jintsuu akhirnya berhadapan frontal dengan ABDACOM yang dipimpin Admiral Karel Doorman. Berikut adalah susunan armada masing-masing negara:
  • IJN (Kekaisaran Jepang)
    • Light Cruiser: Jintsuu, Naka
    • Heavy Cruiser: Nachi, Haguro
    • Destroyer: Inazuma
    • Divisi Destroyer 7: Ushio, Sazanami, Yamakaze, Kawakaze
    • Divisi Destroyer 16: Yukikaze, Tokitsukaze, Amatsukaze, Hatsukaze
  • ABDACOM (Amerika-Inggris-Belanda-Australia)
    • Light Cruiser: HNLMS De Ruyfer, HMAS Perth, HNLMS Java
    • Heavy Cruiser: HMS Exeter, USS Houston
    • Destroyer: HMS Electra, HMS Encounter, HMS Jupiter, HNLMS Kortenaer, HNLMS Witte de With, USS Alden, USS John D. Edwards, USS John D. Ford, USS Paul Jones.
Setelah keberhasilan menghancurkan pertahanan terakhir Sekutu di Hindia Belanda, Jintsuu dikirim pulang ke Kure untuk mendapatkan perbaikan. Saat Pertempuran Midway terjadi, Jintsuu ditugaskan untuk mengawal konvoi kapal transportasi logistik dan minyak. Namun, sayangnya tugasnya gagal dan Jintsuu akhirnya dipindahkan ke armada Mikawa dan bersiap untuk menuju Kepulauan Solomon.

Sebelum tirai Pertempuran Solomon Timur dibuka, Admiral Tanaka di dalam Jintsuu memperoleh bala bantuan dari Admiral Yamamoto berupa pengiriman armada yang dipimpin Admiral Nagumo, yaitu: Shokaku, Zuikaku, Ryujo, Hiei, Kirishima, Suzuya, Kumano, Chikuma, Tone, dan Nagara setelah adanya kabar kehadiran 20 kapal induk Amerika Serikat di kawasan itu.

24-25 Agustus 1944, Pertempuran Solomon Timur dimulai. Pada awalnya Jintsuu harus mengawal Ryuujo, namun Ryuujo karam oleh 4 bom dan 1 torpedo dari pesawat milik USS Saratoga. Setelah Ryuujou karam, Jintsuu harus bertempur menghindari 6 pesawat pembom dari USMC Douglas sambil melindungi konvoi kapal transportasinya. Saat terkena bom, Jintsuu menyerahkan posisi flagship nya kepada kapal perusak Kagerou, dan mundur untuk selanjutnya diperbaiki oleh Akashi di Truk selama satu bulan.

Pertempuran terakhir Jintsuu terjadi di Pertempuran Kolombangara pada 13 Juli 1943. Untuk bisa membantu penyerangan torpedo dari armada kapal perusaknya (Yukikaze, Hamakaze, Yugure, Mikazuki, dan Kiyonami) Jintsuu memutuskan untuk mengambil risiko dengan menyalakan lampu suar pencari. Ini membuat posisinya ketahuan dan menjadikannya target bulan-bulanan 3 kapal penjelajah berat dan 10 kapal perusak.
Namun meskipun api mulai menyebar di atasnya, Jintsuu tetap menyalakan lampu suarnya dan terus meluncurkan torpedonya. Bahkan ketika lambung kapalnya mulai terbelah dua, kru kapalnya masih tetap tinggal untuk menembakkan meriam-meriamnya ke arah musuh. Pada akhirnya, Jintsuu karam terbelah dua setelah menerima kurang lebih 2.600 peluru meriam di tubuhnya, dan setelah Yukikaze mengambil alih posisi flagship-nya.

Pada akhirnya, Jintsuu telah  melakukan tugasnya sebagai pemimpin skuadron dengan baik, bahkan jika ia harus mengorbankan nyawanya untuk melindungi para bawahannya. Di atas semua itu, para sejarawan Jepang setuju menobatkan Jintsuu sebagai kapal Jepang yang bertempur paling sengit dan gigih sepanjang sejarah Perang Pasifik.



===============================================

Mohon dukungannya kepada blog ini dengan membeli merchandise Kantai Collection, baik yang official maupun fanmade di link Unlimited KanColle Shop. Dan bagi yang membutuhkan DMM Point untuk bermain game Kantai Collection, bisa membelinya dengan menuju ke halaman DMM Points Shop.

Mengenal Lebih Dekat Para Kanmusu: Sendai

Source

Source

PENGENALAN

Sendai adalah kapal pertama dari trio kapal penjelajah ringan kelas Sendai, dimana mereka merupakan generasi penerus dari kelas Nagara. Awalnya, 8 kapal yang direncanakan untuk dibuat, namun 2 di antaranya dihentikan pengerjaannya dan 3 sisanya dibatalkan karena adanya tekanan dari Washington Naval Treaty. Sendai sendiri diluncurkan pada 30 Oktober 1923 dan ditugaskan pertama kali pada 28 April 1924.

Anggaran yang tersisa dari ketiga kapal kelas Sendai yang dibatalkan dan kedua kapal kelas Sendai yang dihentikan di tengah jalan, nantinya akan dialihkan menjadi anggaran pembangunan kapal penjelajah berat kelas Furutaka (Furutaka dan Kako). Oleh karena itu, sering disebut bahwa kapal kelas Sendai adalah 'kakak angkat' dari kapal kelas Furutaka; sama halnya dengan kapal induk kelas Unryuu yang dikatakan sebagai 'anak' dari kapal induk Hiryuu.

SPESIFIKASI

Semua kapal penjelajah ringan kelas Sendai dilengkapi dengan 4 corong dan memiliki tungku pemanas di lokasi yang lebih baik ketimbang kelas-kelas sebelumnya. Mereka didesain untuk memiliki peron dan hangar penerbangan sendiri, namun mereka tidak pernah membawa pesawat satu pun sampai dengan masa dimana sistem katapult diinstal pada tahun 1929.

Sendai dipersenjatai dengan 7 meriam laras tunggal berdiameter 5.5 inch, 2 senapan anti pesawat berdiaeter 3 inch, 4 tabung torpedo berdiameter 24 inch, dan membawa 48-56 ranjau laut. Sendai mampu berlayar dengan kecepatan 35.25-35.3 knots. Ia juga membawa satu unit pesawat laut yang bisa diluncurkan menggunakan katapult-nya; biasanya hanya digunakan untuk memata-matai musuh daripada untuk taktik spotting artillery.

SEJARAH PRA PERANG DUNIA II

Setelah selesai dibuat, Sendai langsung ditugaskan untuk melakukan patroli di kawasan Sungai Yangtze. Ia memainkan peranan sangat penting selama fase awal Pertempuran Shanghai (1937), dan membantu pendaratan personil militer di area selatan Cina selama Perang Sino-Japanese Kedua (1937-1941).

SEJARAH PERANG DUNIA II

Selama jalannya Perang Dunia II, Sendai ditempatkan sebagai flagship untuk Skuadron Destroyer 3. Ia berpartisipasi dalam operasi invasi Malaya dimana Jendral Tomoyuki Yamashita menjadi komandannya dan menaikinya selama invasi tersebut. Saat mereka melaksanakan pemboman ke Kota Bharu, Malaya mereka diserang oleh 7 pesawat bomber Hudson milik RAAF (AU Australia), sehingga mereka kehilangan satu kapal transportasi dan dua kapal lainnya terluka.

Selama misi pengawalan lainnya, Sendai membantu menenggelamkan kapal selam Belanda O-20 dimana pesawat Kawanishi E7K miliknya menemukan dan membom kapal selam tersebut, yang nantinya ditenggelamkan oleh kapal perusak Uranami. Sejak itu, Sendai melanjutkan lebih banyak misi pengawalan konvoi dari Jepang ke Malaya, dan beberapa kali berhadapan dengan kapal selam Amerika USS Seadragon SS-194 yang selalu berakhir dengan seri. Saat itu adalah pertama kalinya sebuah kapal IJN bisa bertarung seimbang dengan kapal selam Amerika dan terjalin rivalitas musuh diantara mereka berdua.

Sendai juga berpartisipasi dalam Pertempuran Endau dan bersama-sama dengan Fubuki, Hatsuyuki, Shirayuki, Amagiri, and Yugiri, menghadapi kapal perusak Thanet (Inggris) dan Vampire (Australia). Sendai dan Shirayuki berhasil menenggelamkan Thanet sementara Vampire melarikan diri ke wilayah India. Nantinya, Vampire akan menemui ajalnya di tangan Akagi pada saat Operasi Samudera Hindia.

Setelah pertempuran tersebut, Sendai mengawal pendaratan marinir di Sumatra, dan berpatroli di wilayah Selat Malaka bersama-sama dengan Fubuki dan beberapa kapal perusak lainnya untuk mencegah konvoi logistik Inggris maupun Belanda untuk kabur dari Singapura ke India. Ia dan Fubuki juga mengawal pendaratan pasukan bersama-sama di Pulau Andaman. Kemudian dia pulang ke Sasebo untuk menjalani perbaikan dan remodel.

Sendai juga hadir dalam Pertempuran Midway sebagai bagian dari tubuh utama armada gabungan bersama-sama dengan Yuudachi, dimana posisi pasukan tubuh utama berada jauh di belakang armada pasukan pemukul Kido Butai. Oleh karenanya, Sendai (dan Yuudachi) tidak mendapatkan kesempatan untuk berhadapan dengan armada Amerika (sementara Fubuki berada di dalam armada pasukan pemukul). Setelah kekalahan telak di Midway, ia berdiam sementara di Kure Naval Arsenal.

Kemudian Skuadron Destroyer 3 diaktifkan kembali. Sendai seharusnya dikirim untuk beberapa operasi militer di Burma dan membantu Operasi Samudera Hindia, namun dibatalkan karena adanya kabar pendaratan Amerika di Guadalcanal. Skuadron Destroyer 3 mengawal transportasi marinir selama jalannya Operasi Solomons. Sendai melakukan penyerangan ke Tulagi dan membatu pemboman Lapangan Udara Henderson.

Ia juga hadir di dalam Pertempuran Guadalcanal yang pertama, namun sedikit berbeda tempat dan armada dengan Yuudachi; Sendai dibawah komando Kirishima dan Yuudachi dibawah komando Hiei. Pada saat itu tidak banyak yang bisa ia perbuat, namun pada pertempuran yang kedua, ia berhadapan dengan kapal perang Amerika USS Washington BB-56 dan terluka karenanya, namun berhasil kabur.

Saat berada di Rabaul, Sendai dimutasi ke dalam armada IJN kedelapan dan ditugaskan untuk berpatroli di sekitar Rabaul bersama dengan beberapa destroyer, termasuk Mutsuki. Tak lama ia dipanggil kembali ke Sasebo untuk mendapat perbaikan dan remodel keduanya.

Saat berada di Kolombangara, ia dikepung oleh 1 unit pesawat bomber TBF Avengers, 2 unit bomber B-25 Mitchell, and 1 unit B-24 Liberators. Ajaibnya, ia berhasil mengelak dari semua serangan tersebut tanpa lecet sedikit pun, berkat remodel keduanya.

Perjuangan terakhirnya terjadi pada saat Pertempuran Teluk Empress Augusta, dimana tujuan mereka adalah melindungi bala bantuan dari Pulau Bugenvil. Sayangnya, mereka dicegat oleh USN Task Force 59 yang terdiri dari 4 kapal penjelajah ringan dan 8 kapal perusak. Selama jalannya pertempuran, Shigure yang pertama kali menyadari keberadaan armada Amerika yang mendekati mereka dan menembakkan 8 torpedo serta berbelok ke arah kanan. Sendai pun juga berbelok ke arah kanan sehingga mereka berdua nyaris bertabrakan.

Sendai terdeteksi oleh radar USS Cleveland CL-55, USS Colombia CL-56, USS Montpelier CL-57, dan USS Denver CL-58. Praktis, Sendai menjadi bulan-bulanan tembakan meriam 6 Inch dari keempat kapal penjelajah ringan tersebut dan membakarnya. Sendai tetap dapat mengapung sementara Hatsukaze tenggelam setelah menerima tembakan dari kedelapan kapal perusak Amerika.

Sendai tenggelam pada tanggal 2 November 1943 pukul 04:30 waktu setempat. Kapten Shoji dan 184 kru yang lainnya ikut tenggelam bersamanya, sementara 236 kru lainnya diselamatkan oleh kapal perusak yang tersisa. 76 kru lainnya diselamatkan oleh kapal selam RO-104, termasuk Admiral Ijuin.

KOMENTAR PRIBADI

Saat bermain KanColle dan mengetahui bahwa versi "Kai Ni" yang didapatkan oleh para kanmusu berhubungan dengan pencapaiannya di dunia nyata, aku jadi bertanya-tanya apa kiranya yang membuat Sendai memiliki wujud "Kai Ni" yang seperti ninja?

Pertanyaan itu terjawab saat mengkonfirmasi beberapa hal:
1) Sejak perseteruan antara Jepang dengan RRC sampai dengan akhir hidupnya, Sendai lebih banyak produktif ketika beroperasi di malam hari.
2) Dibandingkan Jintsuu dan Naka, Sendai lebih sering mengoperasikan pesawatnya untuk misi mata-mata dan bahkan membantu menyerang sekalian.
3) Kegesitannya saat menghindari serangan kapal selam di Endau, saat kabur dari sergapan kapal perang di Guadalcanal, dan saat mengecoh kepungan beberapa pesawat pembom di Kolombangara. Dan itu terjadi pada saat dia terbilang 'sendirian' atau 'one-on-one' atau 'one-on-many'.

Kedua fakta sejarah itu tentunya mengingatkan kita akan sosok ninja yang lihai beroperasi sebagai mata-mata saat malam hari dan gesit serta tak mudah tertangkap oleh musuh bukan?


===============================================

Mohon dukungannya kepada blog ini dengan membeli merchandise Kantai Collection, baik yang official maupun fanmade di link Unlimited KanColle Shop. Dan bagi yang membutuhkan DMM Point untuk bermain game Kantai Collection, bisa membelinya dengan menuju ke halaman DMM Points Shop.

Mengenal Lebih Dekat Para Kanmusu: Mutsuki

Source

PENGENALAN


Mutsuki dulunya merupakan 'anak' sulung dari keduabelas bersaudari kapal perusak kelas Mutsuki, yang mulai digagas pembuatannya oleh IJN sejak berakhirnya Perang Dunia I. Pada waktu itu, para kapal kelas Mutsuki merupakan kapal perusak terdepan sepanjang tahun 1930-an. Namun, semenjak kelahiran Fubuki dan meletusnya Perang Dunia II, para kelas Mutsuki dianggap ketinggalan zaman dan kuno.

Pembangunan kapal perusak kelas Mutsuki disetujui sebagai bagian dari pembangunan kekuatan maritim Kekaisaran Jepang, setelah keluarnya Jepang dari Washington Naval Treaty efektif sejak tahun 1923. Kapal kelas Mutsuki merupakan pengembangan dari kapal perusak kelas Minekaze dan Kamikaze. Mutsuki sendiri lahir di Sasabo Naval Arsenal pada tanggal 21 Mei 1924, diluncurkan pada 23 Juli 1925 dan bertugas pertama kali mulai 26 Maret 1926. 

Pada awalnya, ia tidak memiliki nama yang pasti dan hanya diberi nama “Destroyer No. 19”, atau dalam bahasa Jepangnya "Iku" (menjelaskan mengapa Submarine I-19 muncul bersamanya di ilustrasinya di atas, sebagai joke). Namun, pada tanggal 1 Agustus 1928 ia akhirnya diberi nama Mutsuki.

SEJARAH PRA PERANG DUNIA II

Pada era 1930-an, Mutsuki berpartisipasi dalam perang antara Kekaisaran Jepang dengan Republik Rakyat Cina. Salah satunya adalah Insiden Shanghai pada tahun 1932, dan Perang Sino-Japanese Kedua dari tahun 1937-1941 yang merupakan perang terbesar Asia pada abad ke-20, dimana Kekaisaran Jepang harus menghadapi China yang dibantu oleh Uni Soviet dan Jerman dari arah barat, dan Amerika Serikat dari arah timur.

SEJARAH PERANG DUNIA II

Pada saat penyerangan ke Pearl Harbor, Mutsuki adalah bagian dari Divisi Destroyer 30 dibawah Skuadron Cruiser-Destroyer 6 yang merupakan bagian dari armada IJN keempat. Ia diberangkatkan dari Truk sebagai bagian dari pasukan invasi Pulau Wake.

Pagi-pagi sekali pada tanggal 11 Desember 1941 (yang nantinya akan disebut sebagai Pertempuran Pulau Wake), pasukan penjaga garis perbatasan Amerika mendeteksi adanya upaya pendaratan perdana dari Pasukan Pendaratan Marinir Khusus (SNLF), yang dibayang-bayangi oleh sorotan lampu suar dari kapal penjelajah ringan Yuubari, Tenryuu, dan Tatsuta. Sementara kapal perusak pendukung adalah Mutsuki beserta Yayoi, Hayate, Kisaragi, Oite, dan Asanagi. Mereka harus mengawal pendaratan dua kapal transportasi yang membawa 450 personil militer SNLF.

Setelah kehilangan Kisaragi dan Hayate dalam pertempuran itu, pasukan Jepang mundur tanpa sempat mendarat. Ini adalah kekalahan pertama Jepang di Perang Dunia II. Mutsuki kembali beraksi pada 23 Desember dengan pasukan invasi Pulau Wake kedua, dan melaksanakan tugasnya dengan baik kali ini.

Pada awal 1942, Mutsuki mengawal konvoi tentara dari Truk ke Guam, dan kemudian bergabing dalam operasi invasi di Kepulauan Solomon. Di sana ia ditugaskan untuk mengawal pendaratan pasukan Jepang selama jalannya Operation R, yaitu sebuah operasi untuk menduduki Rabaul, Irlandia Baru, dan Inggris Baru). Dan selama Operation SR (operasi pendudukan Lae dan Salamaua di Papua Nugini) pada bulan April nya, ia juga mengawal pendaratan pasukan marinir di Kepulauan Admirality.

Selama Pertempuran Laut Koral dari 7-8 Mei 1942, Mutsuki ditempatkan dalam armada pendaratan yang dibentuk untuk melaksanakan Operation Mo ke Port Moresby. Setelah operasi tersebut dibatalkan, Mutsuki ditempatkan di pangkalan Rabaul dengan tugasnya yang rutinnya yaitu mengawal pengiriman pasokan logistik di antara Truk, Rabaul, dan Palau sampai dipanggil pulang ke Jepang pada bulan Juli untuk menjalani perbaikan dan remodel.

Mutsuki selesai diperbaiki di Sasebo Naval Arsenal pada 12 Juli 1942 dan dimutasi ke armada IJN kedelapan dan ikut berpartisipasi dalam Penyerbuan Lapangan Udara Henderson pada tanggal 24 Agustus 1942.

Selama Pertempuran Kepulauan Solomon Timur pada tanggal 25 Agustus 1942, Mutsuki tenggelam akibat serangan dari pesawat bomber USAAF B-17 Flying Fortress saat hendak membantu kapal transportasi Kinryumaru yang terluka parah. Mutsuki terkena serangan bom secara langsung di kabin mesin, menewaskan 41 kru dan melukai 11 kru lainnya. Kemudian, Yayoi yang menampung kru Mutsuki yang selamat, termasuk kapten kapalnya, Letnan Komodor Kenji Hatano.



===============================================

Mohon dukungannya kepada blog ini dengan membeli merchandise Kantai Collection, baik yang official maupun fanmade di link Unlimited KanColle Shop. Dan bagi yang membutuhkan DMM Point untuk bermain game Kantai Collection, bisa membelinya dengan menuju ke halaman DMM Points Shop.

Mengenal Lebih Dekat Para Kanmusu: Yuudachi

Source
PENGENALAN

Yuudachi adalah 'anak' keempat dari kesepuluh bersaudari kapal perusak kelas Shiratsuyu yang lahir di Sasebo Naval Arsenal. Ia diluncurkan pada tanggal 11 Juni 1936 dan ditugaskan pertama kali pada 7 Januari 1937. Yuudachi dibuat sebagai kapal keempat dari lini kelas Shiratsuyu yang diselesaikan pada hari yang sama dengan kapal ketiga Murasame, nyaris membuat mereka berdua sebagai 'saudari kembar'. Kasus kelahiran mereka sedikit mirip dengan kapal perang Haruna dan Kirishima yang juga sering dianggap 'saudari kembar' karena waktu penyelesaian mereka yang nyaris sama jamnya.

Kapal perusak kelas Shiratsuyu sendiri dibuat dengan tujuan khusus untuk menjadi kapal perusak yang akan berkonfrontasi langsung dengan armada kapal perusak Amerika Serikat di kawasan Pasifik Barat dan Selatan.

SPESIFIKASI

Yuudachi dilengkapi dengan 2 turbin poros Kampon dan 3 tungku pemanas yang dapat menghasilkan 42.000 tenaga kuda. Kecepatannya adalah 34 knots dan dipersenjatai dengan: (1) Dua meriam Type 3 laras ganda dan satu meriam Type 3 laras tunggal berdiameter 5 inch 50 caliber, (2) Dua senapan anti pesawat Type 93 berdiameter 13-mm, (3) Dua tabung torpedo berlipat empat berdiameter 24 inch , serta (4) 16 unit bom laut.

SEJARAH

Yuudachi ditempatkan dibawah Divisi Destroyer 2 yang merupakan bagian dari armada IJN kedua, bersama dengan saudari-saudarinya: Murasame, Harusame, dan Samidare. Divisi Destroyer 2 berangkat menuju Mako Guard District (Makung, Kepulauan Pescadores) dari Selat Terashima. Dari Mako, mereka meneruskan perjalanan ke Vigan untuk membantu invasi militer ke Kepulauan Filipina.

Ia juga berperan dalam memberikan tembakan perlindungan bagi armada invasi ke Lingayen, Tarakan, dan Balikpapan. Ia juga sempat terlibat dalam Pertempuran Laut Jawa bersama dengan semua Divisi Destroyer 2. Mereka bersama-sama menghadapi 2 kapal penjelajah berat, 3 kapal penjelajah ringan, dan 9 kapal perusak dari pihak Sekutu. Dan mereka berhasil menenggelamkan 1 kapal penjelajah berat, 1 kapal penjelajah ringan, dan 3 kapal perusak dengan pengorbanan 1 kapal perusak IJN yang terluka parah. Dengan demikian pangkalan militer Jepang di Surabaya berhasil dibangun.

Kemudian Divisi Destroyer 2 melanjutkan perjalanan ke Teluk Subic dan melakukan blokade laut dari Manila dan membantu proses pendudukan Cebu. Setelahnya, Yuudachi diperintahkan untuk pulang ke Yokosuka dari Mako untuk menjalani perbaikan.

Selama Pertempuran Midway, Yuudachi ditugaskan untuk mengawal pasukan inti pendudukan yang dipimpin oleh Admiral Kondo. Kemudian, dari Kure ia ditugaskan ke Singapura untuk membantu penyerangan ke Samudera Hindia, namun kemudian perintah itu dibatalkan karena adanya kabar bahwa Sekutu telah menguasai Guadalcana.

Pada 30 August 1942, Yuudachi sampai di Shortlands dari Pulau Truk untuk mendukung operasi transportasi personil militer di Guadalcanal. Ia mengawal satu konvoi kapal tongkang dari Shortland ke Gizo bersama dengan Murakumo. Ia kemudian ditugaskan untuk mengawal operasi Tokyo Express bersama dengan Hatsuyuki dan Murakumo. Konvoi tersebut mendaratkan 1.000 pasukan ke Taivu, dan ia menenggelamkan USS Gregory APD-3 dan USS Little APD-4 yang merupakan kapal transportasi cepat eks-kapal perusak milik Amerika. Pada hari berikutnya, ia ditunjuk untuk menyerang konvoi Amerika di Guadalcanal. Karena tidak dapat menemukan konvoi yang jadi sasarannya, ia terpaksa diperbantukan ke Pertempuran Lapangan Udara Henderson bersama dengan Uranami, Shikinami, dan Ariake.

Yuudachi menghabiskan hampir seluruh karir militernya selanjutnya sebagai kapal pengawal transportasi ke Guadalcanal. Ia juga sempat ditugaskan untuk memberikan tembakan dukungan pada Pertempuran Edson's Ridge bersama dengan Uranami dan Murakumo. Lalu ia juga pernah ditugaskan untuk memburu konvoi musuh yang menuju ke Guadalcanal sebelum akhirnye kembali mengawal operasi Tokyo Express kembali. Awalnya ia hadir dalam Pertempuran Lapangan Udara Henderson untuk menolong kapal penjelajah ringan Yura yang dibombardir dan menyelamatkan kru kapal Yura bersama dengan Harusame dan menenggelamkannya setelahnya. Akhirnya, ia mengawal tiga konvoi Tokyo Express lagi sebelum akhirnya ia benar-benar ditempatkan di dalam armada di bawah Admiral Abe untuk menyerbu Lapangan Udara Henderson.

Pertempuran terakhir Yuudachi terjadi pada fase ketiga dari keseluruhan proses Pertempuran Solomon, yaitu Pertempuran Guadalcanal I.  Saat itu, Yuudachi bersama-sama dengan Amatsukaze* menembus masuk formasi pertahanan armada Amerika yang terdiri dari 5 kapal perusak. Amatsukaze menenggelamkan USS Barton DD-599 dan membuat USS Juneau CL-52 rusak parah dengan torpedo, sementara Yuudachi menembakkan 8 torpedo ke arah formasi tersebut.

Saat itu adalah hari Jumat ketigabelas. Waktu menunjukkan jam 01:25, tengah malam, cuaca amat buruk dan nyaris gelap gulita karena tidak ada bulan di langit. Di tengah kekacauan perang yang demikian, Yuudachi berhadapan dengan dua kapal perusak Amerika: USS Sterett DD-407 dan USS Aaron Ward DD-483. Ia sedikit tidak menyadari keberadaan keduanya, dan kedua kapal tersebut menyerbunya dengan rentetan tembakan. Kapten kapalnya memerintahkan untuk 'angkat layar, bersauh!' menggunakan sprei kasur berwarna putih. Namun, pihak Amerika mengira bahwa 'layar sauh' Yuudachi adalah tanda 'menyerah' dan membuat mereka mengacuhkannya. Dan, Yuudachi membuka tembakannya pada kapal Sekutu yang lewat (salah satunya adalah USS Portland CA-33).

Samidare segera menyelamatkan para kru Yuudachi namun gagal menenggelamkannya yang sudah rusak parah. Portland yang sudah rusak parah menjadi marah besar atas tindakan Yuudachi tersebut dan membalas tembakan tersebut serta membombardir kapal perusak yang sudah ditinggalkan oleh krunya tersebut dengan tanpa henti-hentinya sampai Yuudachi benar-benar hancur tanpa sisa.

Samidare berhasil menyelamatkan 207 kru yang selamat termasuk Komandan Kikkawa. Sementara 26 jiwa kru Yuudachi tewas di tempat. Atas tragedi kekacauan dan kesalahpahaman itu, aksi Yuudachi ini selanjutnya akan dikenang di masa depan sebagai "Nightmare of Solomon".

Yuudachi resmi tenggelam pada 13 November 1942, menyusul Fubuki yang tenggelam beberapa minggu lebih dulu. Ia kini beristirahat dengan tenang di kawasan Ironbottom Sound.

*) Terdapat perbedaan versi cerita antara yang terdapat di buku-buku sejarah perang Barat dengan yang diceritakan oleh Famitsu. Kebanyakan fans KanColle Jepang (dan mungkin juga Indonesia yang sudah lebih dulu melihat dokumentasi perang versi gamenya di youtube) percaya bahwa yang bersama-sama dengan Yuudachi menerobos formasi musuh pada saat itu adalah Harusame, sedangkan orang non-Jepang lebih mempercayai versi satunya bahwa Amatsukaze lah yang bersama-sama dengan Yuudachi melakukan aksi nekat itu.

KOMENTAR ILUSTRATOR YUUDACHI DI FAMITSU

"Walaupun pada pandangan pertama Yuudachi terlihat seperti seorang tuan putri yang terhormat, di dalamnya tersimpan jiwa seorang gadis desa yang simpel dan polos. Bagaimana ia begitu mendambakan pujian dan elusan kepala dari Admiral-nya sungguh imut! Aku jadi ingin punya adik perempuan sepertinya."

"Akhiran kata 'poi' yang dimilikinya itu terdengar seperti milik para gadis zaman modern ini, bukan begitu? Karena keanehannya itulah, aku jadi sering menggunakannya setiap hari...!"

"Setelah remodel yang kedua, dirinya berubah menjadi lebih keren. Seragam hitam, mata merah menyala, dan torpedo yang hidup itu seakan menggambarkan sisi gelapnya di Guadalcanal. Namun, di dalamnya, ia masih seorang gadis polos yang sama. Dan terkadang, ketika melihatnya sedang bengong itu juga manis kok."



===============================================

Mohon dukungannya kepada blog ini dengan membeli merchandise Kantai Collection, baik yang official maupun fanmade di link Unlimited KanColle Shop. Dan bagi yang membutuhkan DMM Point untuk bermain game Kantai Collection, bisa membelinya dengan menuju ke halaman DMM Points Shop.

Monday, 11 May 2015

Mengenal Lebih Dekat Para Kanmusu: Fubuki



Source



PENGENALAN

Fubuki dulunya adalah kapal pertama dari 24 kapal perusak (Destroyer) kelas Fubuki. Kelas kapal perusak ini dikatakan sebagai kapal perusak paling mutakhir yang mampu menjadi rival kapal perusak Amerika kelas Porter dan Somer, pada saat itu. Kecepatan kapal kelas Fubuki adalah 38 knots, dengan catatan sambil membawa meriam berlaras ganda tipe ke-3 diameter 5 inch dan tabung-tabung torpedo berdiameter 24 inch. Fubuki lahir di Maizuru Naval Arsenal, diluncurkan pertama kali pada tanggal 15 November 1927 dan mulai bertugas pada tanggal 10 August 1928.

SPESIFIKASI

Walaupun saat itu Jepang berada di dalam batasan Washington Naval Treaty, kapal perusak tipe khusus kelas Fubuki inilah yang akan mengejutkan seluruh dunia, dengan melampaui batasan-batasan definisi klasik kapal perusak itu sendiri.

Walaupun dengan perjanjian yang membuat program militer "Armada 88" terhenti itu, situasi dimana angkatan laut Jepang membutuhkan kapal-kapal yang bisa melawan armada musuh kapan saja tetap tidak berubah.

Kebutuhan yang disyaratkan oleh para petinggi militer Jepang pada saat itu adalah antara lain:
  • Meningkatkan kepantasan dan kemampuan berlayar di tengah laut lepas.
  • Persenjataan torpedo yang bisa digunakan secara lebih ofensif.
  • Kemampuan untuk menangkis armada kapal perusak musuh. Kemampuan untuk bertarung seimbang dengan kapal penjelajah ringan (Light Cruiser) di tengah-tengah armada kapal perusak musuh. Dan lagi, mempunyai kekuatan tembak lebih tinggi dibandingkan kapal perusak musuh yang terbaru sekali pun.
Untuk memenuhi tuntutan itu, spesifikasi ini mulai dibuat:
  • Untuk mendapatkan kecepatan yang dibutuhkan, meriam laras ganda diameter 12.7cm ditempatkan bersama-sama dengan tiga laras tabung torpedo rangkap tiga berdiameter 61cm (total 9 torpedo).
  • Anjungan kapal dibuat tertutup (anjungan kapal perusak generasi sebelumnya hanya menggunakan atap kanvas).
  • Haluan kapal diperbesar dan dibuat menggunakan bahan Duralumin. Namun, karena gampang terkena korosi oleh air laut, diganti menjadi pelat besi.
  • Untuk meningkatkan kepantasan ditinggali selama ekspedisi jangka panjang, lorong kamar untuk para awak kapal dilengkapi dengan kompor kapur, pemanas uap, dan kulkas.
  • Harus dilengkapi dengan turbin penjelajah.
  • Untuk memperkuat armor dan kemampuan penjelajahan, lambung kapal dibangun mulai dari haluan hingga buritan kapal.
Spesifikasi dasar yang sepertinya terlalu muluk-muluk ini sangat berbeda dengan konsep ideal desainer kapal yang konvensional. Yang membuat Fubuki bisa lahir adalah hasil dari persyaratan yang dikemukakan oleh para petinggi militer dan para desainer modern yang berfokus pada inovasi untuk mewujudkannya. Kelahirannya sekaligus membuat kapal-kapal perusak generasi lama seperti kelas Mutsuki menjadi kuno dan ketinggalan zaman.


SEJARAH

Selama penyerangan ke Pearl Harbor, Fubuki ditempatkan dalam Divisi Destroyer 11 dari Skuadron Destroyer 3 sebagai bagian dari armada pertama IJN (Imperial Japan Navy). Ia mengawal kapal penjelajah berat (Heavy Cruisers) Kumano dan Suzuya bersama dengan kapal perusak Sigiri untuk membantu operasi militer dari Prancis Indochina (sekarang adalah Vietnam, Laos, Kamboja, dan China bagian selatan) sampai ke Inggris Borneo (sekarang Malaysia bagian Timur atau Kalimantan Utara).

Ia juga terlibat dalam Invasi Malaya dimana dia dibantu untuk misi penyelamatan kapal transportasi Akita Maru yang ditorpedo oleh kapal selam Belanda O-19. Pada 26-27 Januari 1942, Fubuki berpartisipasi dalam Pertempuran Endau (perairan di sebelah utara Palembang, Sumatera) dimana dia berhasil menenggelamkan kapal perusak Inggris, Thanet, bersama-sama dengan Sendai.

Dia juga membantu dalam Invasi Sumatra, dengan menyerang kapal pengiriman senjata dari pihak Sekutu yang kabur dari Singapura. Ia berhasil menangkap tujuh di antaranya. Fubuki juga hadir dalam Pertempuran Selat Sunda setelahnya. Di sana Fubuki dituduh melakukan friendly fire (menembak teman sendiri) yang menenggelamkan empat kapal transport Jepang dan sebuah kapal penyapu ranjau. Namun investigasi lebih jauh membuktikan bahwa kapal penjelajah berat Mogami yang bertanggung jawab atas insiden itu.

Fubuki membantu operasi militer Jepang semakin jauh ke Asia Selatan, dimana dia juga hadir di front belakang Operasi Samudera Hindia dimana dia ditugaskan untuk mengawal pulang beberapa kapal perang dari Port Blair di Pulau Andaman.

Dia juga terlibat dalam Pertempuran Midway, dimana dia ditugaskan untuk memberikan perlindungan anti pesawat tempur dari Amerika. Sayangnya, ia gagal melindungi para Kido Butai yang terdiri dari Akagi, Kaga, Souryuu, dan Hiryuu yang karam di pertempuran tersebut. Setelah itu, tugasnya menjadi terfokus sebagai kapal patroli anti kapal selam dan kapal pengawal beberapa kapal perang besar dari Jepang ke beberapa pangkalan militer di Asia Tenggara dan Pasifik Selatan.

Pertengahan 1942, Fubuki dikirim ke Kepulauan Solomon, dimana dia ditugaskan dalam beberapa misi penting seperti Tokyo Express, Pemboman Lapangan Udara Henderson (namun Ryuujo dan Mutsuki tenggelam di misi ini) dan memberikan perlindungan kepada beberapa kapal transportasi. Ia juga memberikan tembakan pendukung pada Pertempuran Edson's Ridge. Dan lagi-lagi, mengawal 5 kapal transportasi personil militer. Dengan demikian, hampir sebagian besar karirnya di Perang Dunia II dihabiskan menjadi kapal pengawal misi penting.

Pertarungan terakhirnya adalah di Pertempuran Cape Esperance, dimana dia dan Hatsuyuki (yang salah diidentifikasikan sebagai Murakumo) ditugaskan untuk menjadi tameng bagi kapal penjelajah berat Aoba, Kinugasa dan Furataka yang ditugaskan untuk menyerbu Lapangan Udara Henderson.

Pada saat itu adalah pertempuran malam. Armada Jepang salah mengidentifikasi kedatangan armada Amerika sebagai armada teman, disebabkan oleh radar yang tidak efektif pada saat itu. Kapal penjelajah berat San Francisco CA-38 dan Boise CL-47 adalah yang pertama menemukan Fubuki dan menembakkan beberapa peluru meriamnya ke arahnya. Kemudian disusul oleh ketujuh kapal yang lainnya, praktis membuat Fubuki terluka parah akibat dikepung oleh 9 kapal Amerika. Namun, pengorbanannya membuat Kinugasa dan Hatsuyuki berhasil melarikan diri. 109 dari kru kapal Fubuki diselamatkan oleh kapal perusak Amerika USS McCalla DD-488 dan 2 kapal penyapu ranjau Amerika: USS Hovey DMS-11 dan USS Trever DMS-16.

Fubuki resmi tenggelam pada 11 Oktober 1942, dan kini dia beristirahat dengan tenang di kuburan para kapal perang terbesar di dunia: Ironbottom Sound.


KOMENTAR ILUSTRATOR FUBUKI DI FAMITSU

"Aku selalu berpikir... Sampai dengan ketika aku memodifikasinya pertama kalinya, selain dari status keberuntungannya yang lebih tinggi, semua status tempurnya termasuk standar. Jadi kenapa developer gamenya membuat Fubuki menjadi ikon tokoh utama?"

"Ketika aku melakukan riset tentang Fubuki, di antara begitu sedikitnya materi-materi sejarah yang masih ada, banyak di antaranya menyebutkannya sebagai: 'Mengguncang Bumi!', 'Mengejutkan Dunia!', atau 'Mengubah Masa Depan Kapal Perusak!'. Dan Fubuki adalah kapal pertama yang lahir di awal-awal periode Showa."

"Bagi orang-orang yang tahu betul masa-masa Showa itu seperti apa, Fubuki menjadi simbol batu fondasi kemajuan teknologi Jepang pada saat itu. Dan bagi kita para generasi yang lahir setelah perang tersebut, akan selalu mengingat pencapaian bersejarah itu."

"Jika boleh dilebih-lebihkan, Fubuki adalah kapal yang mengubah sejarah angkatan laut Jepang; dia adalah standar yang benar-benar baru."

"Jika diibaratkan, Fubuki itu seperti kita sedang makan menggunakan nasi putih"*


*) Sampai dengan periode Taishou (sebelum Showa), teknologi untuk penggilingan padi masih belum berkembang dengan baik. Sehingga orang-orang Jepang pada saat itu hanya dapat mengkonsumsi gandum atau gabah. Makan nasi putih pada zaman itu, menandakan bahwa kamu adalah orang yang sangat kaya. Kelahiran Fubuki yang diibaratkan oleh ilustratornya seperti itu, seperti ingin mengungkapkan bahwa "Sekarang, semua rakyat bisa makan nasi putih!".

Kelahiran Fubuki menjadi propaganda simbol harapan bagi Jepang menuju zaman baru yang ditandai dengan kreatifitas, inovasi, dan kerja keras untuk menjadi setara dengan bangsa barat.


===============================================

Mohon dukungannya kepada blog ini dengan membeli merchandise Kantai Collection, baik yang official maupun fanmade di link Unlimited KanColle Shop. Dan bagi yang membutuhkan DMM Point untuk bermain game Kantai Collection, bisa membelinya dengan menuju ke halaman DMM Points Shop.